Dalam perjalanan panjang Himpunan Mahasiswa Islam, setiap generasi selalu membawa wajah baru tantangan dan harapan. Dahulu, HMI banyak bersinggungan dengan pergulatan generasi sebelum-sebelumnya—mereka yang tumbuh bersama gelombang reformasi, industrialisasi, dan perkembangan arus modernitas awal. Namun kini, panggung itu bergeser kepada generasi yang jauh berbeda: Generasi Z, generasi yang lahir di tengah derasnya teknologi, tumbuh bersama kecanggihan digital, dan hidup dalam ritme dunia yang berubah hampir setiap detik.
Generasi Z hadir dengan identitas unik yang sering kali tak bisa dipahami hanya dengan kacamata lama. Mereka tumbuh sebagai “anak-anak internet,” yang sejak kecil telah berinteraksi dengan ponsel, media sosial, dan informasi tanpa batas. Dunia mereka bukan lagi sekadar ruang fisik, melainkan ruang-ruang virtual yang penuh percakapan, citra, dan ragam perspektif. Mereka tumbuh dengan kebiasaan baru: berpendapat secara instan, belajar dengan ritme cepat, dan membangun pertemanan lintas batas melalui layar. Namun pada saat yang sama, mereka memikul beban yang tak selalu tampak—tekanan sosial, perbandingan yang terus-menerus, kebingungan identitas, hingga kecemasan tentang masa depan yang terasa semakin tak pasti.
Dalam pusaran dinamika itu, HMI berdiri pada simpang jalan. Di satu sisi, HMI memiliki sejarah panjang sebagai ruang tumbuhnya intelektual, para pemimpin muda, dan penjaga nilai perjuangan. Di sisi lain, HMI dihadapkan pada pertanyaan besar: seberapa mampu organisasi ini menyesuaikan diri dengan karakter dan kebutuhan generasi baru yang pola berpikirnya jauh berbeda dari generasi-generasi sebelumnya?
HMI selama puluhan tahun dikenal sebagai organisasi yang bertumpu pada intelektualisme, nilai keislaman, dan komitmen terhadap bangsa. Nilai-nilai itu tetap relevan—bahkan mungkin semakin penting—namun cara menyampaikannya tak bisa lagi bertumpu pada pola lama. Generasi Z bukan tipe yang duduk berjam-jam mendengarkan ceramah panjang tanpa dialog. Mereka membutuhkan ruang partisipatif, diskusi yang terbuka, dan metode yang lebih dekat dengan keseharian mereka. Bagi mereka, gagasan bukan sekadar materi yang disampaikan, melainkan pengalaman yang harus dirasakan.
Di sinilah internalisasi Nilai Dasar Perjuangan HMI menemukan urgensinya. NDP bukan hanya dokumen ideologis yang dijadikan hafalan, melainkan peta nilai yang dapat menuntun generasi muda memahami jati diri di tengah hiruk-pikuk digital. Ketika NDP dihadirkan sebagai proses pembatinan—bukan sekadar materi kaderisasi—ia mampu menjadi fondasi kokoh bagi Gen Z untuk memaknai keislaman secara rasional, membangun etos akademis yang kritis, serta menumbuhkan kesadaran kebangsaan yang tidak tergerus arus tren global. Internalisasi semacam ini membuat nilai HMI tidak berhenti sebagai slogan, tetapi hidup sebagai karakter dan cara pandang yang membumi dalam setiap langkah kader.
Tantangan terbesar HMI hari ini bukan hanya menjaga keberlanjutan ideologis, tetapi juga memastikan bahwa nilai-nilai itu dipahami dalam konteks hari ini. Ketika dunia menawarkan berbagai narasi tentang identitas, makna hidup, hingga arah masa depan, HMI perlu hadir sebagai ruang yang memberikan kejelasan tanpa menghakimi, membimbing tanpa mendikte, serta menguatkan tanpa mengekang kreativitas. Generasi Z membutuhkan teman dialog, bukan penguasa wacana; pendamping proses, bukan pemilik kebenaran.
Di tengah tantangan itu, HMI sebenarnya memiliki peluang besar. Generasi Z adalah generasi dengan rasa sosial kuat, keinginan untuk memberi dampak, dan daya kreativitas yang jauh melampaui generasi sebelumnya. Mereka hanya membutuhkan wadah yang dapat mengakui potensi itu dan membantu mengarahkannya. Ketika HMI mampu mengemas kembali nilai-nilai Islam dan keindonesiaan dalam bahasa yang resonan bagi generasi muda—bahasa yang jujur, relevan, dekat, dan solutif—maka HMI bukan hanya akan tetap hidup, tetapi akan menjadi rumah yang benar-benar dibutuhkan oleh generasi ini.
Pada akhirnya, pertemuan antara HMI dan Generasi Z bukanlah pertemuan antara organisasi tua dan generasi baru. Lebih dari itu, ini adalah pertemuan antara nilai yang telah teruji waktu dengan semangat yang segar dan inovatif. Bila keduanya mampu menyatu, kita bukan hanya sedang menjaga sejarah, tetapi juga sedang membangun masa depan.
Dalam perjalanan bangsa yang semakin kompleks, peran generasi muda tidak bisa ditunda. Dan HMI, dengan segala pengalamannya, dapat menjadi jembatan yang memastikan bahwa semangat perubahan generasi hari ini tetap berpijak pada nilai, identitas, dan tanggung jawab besar sebagai anak bangsa. Karena tantangan tidak akan pernah berhenti. Yang berubah hanyalah cara kita menjawabnya—dan generasi kita selalu punya kesempatan untuk melakukannya dengan lebih baik.
Oleh: Dr. Mokhamad Abdul Aziz
Penulis adalah Fungsionaris Kahmi Rembang