Forhati di Usia 27 Tahun: Menguatkan Peran, Meneguhkan Pengabdian

KAHMI Rembang
0

Dua puluh tujuh tahun lalu, para perempuan alumni Himpunan Mahasiswa Islam—yang menyebut dirinya Forhati—menegakkan sebuah tonggak penting: menghadirkan organisasi perempuan yang tak hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi sekaligus ruang intelektual, ruang keberpihakan, dan ruang pengabdian. Memasuki usia 27 tahun, Forhati bukan lagi sekadar organisasi pendamping dari KAHMI. Ia telah menjelma menjadi kekuatan moral yang berperan dalam diskursus kebangsaan, terutama terkait isu-isu perempuan, anak, serta pembangunan sumber daya manusia.


Di tengah arus perubahan sosial yang makin cepat, Forhati ditantang untuk membuktikan relevansinya. Dan sejauh ini, kontribusinya tidak bisa diabaikan. Jejak program pemberdayaan perempuan, advokasi perlindungan anak, literasi keluarga, hingga pendidikan politik bagi perempuan menjadi bukti bahwa Forhati hadir bukan hanya sebagai simbol sejarah, tetapi sebagai mesin peradaban yang bekerja di akar rumput.


Namun perjalanan masih panjang. Milad ke-27 harus dimaknai bukan sebagai selebrasi, melainkan momentum memperbarui visi agar kiprah organisasi ini semakin berdampak pada bangsa dan negara.


Sebagai Arah Peradaban


Di banyak forum nasional, diskusi mengenai isu perempuan sering kali berkutat pada angka: jumlah kekerasan, perkawinan anak, kerentanan ekonomi, atau akses pendidikan. Padahal, persoalan perempuan sejatinya adalah persoalan peradaban. Ketika perempuan diberi ruang aman, kesempatan berkembang, dan penghormatan terhadap martabatnya, maka generasi yang dilahirkannya akan tumbuh dengan karakter kuat.


Forhati memahami hal ini. Karena itu, dalam banyak kegiatannya, Forhati hadir bukan sebagai penonton, tetapi sebagai penggerak. Konsolidasi kader perempuan terdidik, program literasi digital bagi ibu rumah tangga, kampanye perlindungan anak dari kekerasan seksual, hingga pendampingan keluarga prasejahtera—semuanya menjadi bagian dari ikhtiar panjang untuk menegakkan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.


Namun pekerjaan ini tidak bisa berhenti di level program. Keterlibatan struktural perlu diperkuat. Forhati memiliki modal besar: jejaring alumni HMI yang tersebar dari pusat hingga daerah, dengan latar belakang profesi yang beragam—akademisi, birokrat, politisi, pengusaha, tenaga kesehatan, hingga aktivis sosial. Modal keterhubungan seperti ini adalah kekuatan strategis yang jarang dimiliki organisasi perempuan lainnya.


Dalam satu dekade terakhir, persoalan perempuan dan anak mengalami pergeseran pola. Kekerasan berpindah dari ruang fisik ke ruang digital. Cyberbullying, eksploitasi seksual online, perdagangan orang berbasis media sosial, hingga maraknya konten yang merusak karakter anak menjadi isu yang menuntut respons lebih serius.


Forhati perlu menguatkan kemampuan advokasinya di ranah baru ini. Pendidikan literasi digital tidak cukup hanya menyasar anak sekolah; ia harus menyentuh keluarga, terutama ibu, yang menjadi garda pertama pembentukan karakter. Pendampingan hukum bagi korban kekerasan berbasis digital pun perlu digencarkan, mengingat banyak perempuan tidak memiliki akses informasi untuk melapor atau sekadar mencari perlindungan.


Dalam konteks inilah usia 27 tahun menjadi titik krusial. Forhati harus memantapkan langkah sebagai organisasi perempuan modern: responsif terhadap perubahan, adaptif terhadap tantangan, dan progresif dalam merumuskan solusi.


Peran Strategis


Sebagai bagian dari keluarga besar KAHMI, Forhati memegang peran moral yang sangat penting. Sejarah menunjukkan bahwa alumni HMI memiliki kontribusi besar dalam perjalanan politik, demokrasi, dan pembangunan negeri. Karena itu, Forhati tidak boleh menempatkan diri sebagai aktor pinggiran. Justru di tengah situasi politik dan sosial yang kompleks, suara perempuan terdidik seperti Forhati diperlukan sebagai penyeimbang.


Indonesia sedang menghadapi tantangan besar: bonus demografi, ketimpangan ekonomi, ancaman intoleransi, lemahnya literasi, hingga krisis keluarga. Semua persoalan itu memiliki irisan langsung dengan isu perempuan dan anak. Karena itu, Forhati seharusnya tidak hanya bergerak dalam konteks keperempuanan semata, tetapi juga menjadi bagian dari penentu arah kebijakan publik melalui riset, rekomendasi kebijakan, dan keterlibatan kader perempuan dalam ruang-ruang pengambilan keputusan.


Perempuan bukan sekadar objek pembangunan; mereka adalah subjek kunci. Dan Forhati memiliki kewajiban moral untuk memastikan bahwa perempuan Indonesia mendapat ruang dan kesempatan yang setara dalam menentukan masa depan bangsa.


Memasuki usia 27 tahun, harapan terhadap Forhati semakin besar. Ada beberapa agenda strategis yang layak dipertajam: pertama, memperkuat kapasitas kader perempuan di bidang kepemimpinan, politik, ekonomi, dan inovasi; kedua, membangun pusat riset dan advokasi isu perempuan dan anak; ketiga, mengembangkan program pemberdayaan ekonomi digital bagi perempuan; menguatkan literasi keluarga sebagai fondasi peradaban; kelima, emperluas jejaring nasional dan internasional.


Dengan demikian, milad ke-27 Forhati bukan hanya perayaan usia, melainkan perayaan komitmen. Di tengah kerumitan zaman, Forhati hadir sebagai energi perubahan—tenang, cerdas, berkarakter, dan berkeadaban.


Bangsa ini membutuhkan lebih banyak perempuan yang berani bersuara, berani bertindak, dan berani memimpin. Forhati telah membuktikan dirinya sebagai bagian dari itu. Semoga usia ke-27 ini semakin meneguhkan langkah Forhati untuk memberi kontribusi lebih besar bagi Indonesia: menjaga martabat perempuan, melindungi masa depan anak-anak, dan memperkuat peradaban bangsa.


Selamat Milad ke-27 Forhati. Teruslah menjadi cahaya yang menerangi jalan perubahan, demi Indonesia yang lebih adil, berdaya, dan bermartabat.


Penulis: Redaksi

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)